Irving berlin, pemusik tersohor, meninggal dunia. ia menciptakan lagu kebangsaan as, god bless america. lagu-lagu ciptaannya laku keras.ia tak tahu & tak pernah belajar bagaimana membaca & menulis not balok.
DIA mengembuskan napas pada hari Jumat pekan lalu di rumahnya yang terletak di kawasan elite di New York. Saat itu dia berusia 101 tahun. Dunia pun tersentak. Bukan karena hanya seseorang yang berumur melebihi satu abad telah tiada, tetapi dia adalah Irving Berlin. Pemusik yang menciptakan lagu kebangsaaan Amerika Serikat, God Bless America. Dia jugalah pencipta I’m Dreaming of a White Christmas yang setiap hari Natal bergema di seluruh dunia.
Berlin dilahirkan di Desa Temun, Rusia Timur, pada tahun 1888 dengan nama Israel Beline. Ayahnya, Moses Beline, adalah penyanyi sinagog dan shochet, pemberi doa dalam upacara penyembelihan hewan. Pada tahun 1893, keluarganya berimigrasi ke New York. Sialnya, tiga tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Beline muda terpaksa bekerja.
Semula Israel Beline menjadi tukang jual koran di jalan. Tak lama kemudian, dia pindah profesi menjadi penunjuk jalan bagi seorang pengamen buta bernama Blind Sol. Tugasnya adalah mengantar penyayi itu keluar masuk restoran dan menghitungkan jumlah duit yang masuk. Saat itu Beline berambisi membelikan sebuah kursi goyang untuk neneknya.
Setelah berpisah dengan Blind Sol, Israel Beline mulai merintis karier. Dia menjadi penyanyi tak tetap di berbagai bar dengan bayaran bergantung pada persenan yang diberikan oleh tamu. Pada tahun 1906, ia menjadi pelayan merangkap penyanyi tetap di Pelham Cafe, Chinatown, New York.
Pada malam hari, setelah barnya tutup, ia suka memenceti tuts piano untuk menciptakan lagu. Hasilnya, pada tahun 1907, dia menciptakan lagu Marie From Sunny Italy. Lagu itu memang tak laku di pasar. Tapi lagu itulah yang kemudian mengubah nama Israel Beline. Pada sampul rekaman, nama Israel Beline ditulis I. Berlin, dan khalayak mengira I singkatan dari Irving. Nah,
jadilah nama Irving Berlin, dan nama itulah dipakai dan laku sampai akhir hayatnya.
Bakatnya memang luar biasa. Dalam usia 30 tahun, ia menghasilkan 19 lagu untuk pentas Broadway dan 18 lagu pengiring film Hollywood. Padahal, dia tak tahu dan tak pernah belajar bagaimana membaca dan menulis not balok. Lagi pula dia hanya bisa bermain musik pada nada F. Dalam mencipta lagu dia hanya memakai satu jari di atas tuts piano. Pekerjaan selanjutnya dia
serahkan kepada pengaransir.
Popularitas Berlin mulai meledak pada tahun 1911, ketika menciptakan lagu Alexander’s Ragtime Band. Lalu disusul dengan berderet-deret lagu lain, sampai mencapai 1.500 lagu. Agar tak dijarah pembajak, pada tahun 1919. dia mendirikan Irving Berlin Music Corp. Perusahaan itu dipakai untuk mempublikasikan karya-karyanya, sekaligus mempertahankan hak cipta.
Sebelum itu, pada tahun 1917, Berlin kena wajib militer. Dia ditugaskan di Camp Upton, Long Island, tempat pemberangkatan serdadu Amerika yang mau bertugas di medan Perang Dunia Pertama di Eropa. Di sana dia mendapat tugas membuat lagu untuk komedi musikal berjudul Yip, Yip, Yaphank, yang dibintangi oleh para serdadu Camp Upton. Pementasan tak serius itu ternyata berhasil bertahan selama 32 kali pertunjukan di Century Theatre, New York, dan menghasilkan US$ 150 ribu yang seluruhnya dipakai
untuk barak Camp Upton.
Ada satu hal yang menarik dari Yip, Yip, Yaphank. Ada kalimat yang berbunyi, “Oh, betapa bencinya saya bangun di pagi hari.” Kalimat itu dipetik dari kebiasaannya yang selalu tidur setelah lewat tengah malam. Berlin ternyata tak suka bekerja pada pagi hari.
Jasa kedua kepada angkatan bersenjata dipersembahkan Berlin lewat This is the Army. pada bulan-bulan pertama Perang Dunia Kedua. Pementasan itu ditangani sepenuhnya oleh Berlin. Dia menjadi produser, sutradara sekaligus penulis lagu. Dua lagu dan pementasan itu, This is the Army, Mr. Jones dan I Left My Heart at the Stage Door Canteen, menghasilkan sejuta dolar bagi
Bantuan Darurat Angkatan Darat.
Kekayaan Berlin makin bertumpuk ketika para penyanyi kelas satu mulai mengincar lagu-lagunya. Di antaranya tercatat Frank Sinatra, Barbara Streisand, Linda Ronstadt, Diana Ross. Dua lagunya, I’m Dreaming of a White Christmas dan Easter Parade bahkan direkam berulang kali oleh penyanyi yang berbeda-beda, serta selalu laku dijual.
Tapi, lagu yang paling berkesan bagi Berlin adalah When I Lost You yang, menghasilkan lebih dari sejuta piringan hitam. Lagu itu bermula pada tahun 1912, ketika dia kawin dengan Dorothy Goetz, adik penulis lagu terkenal, Ray Goetz. Setengah tahun kemudian, mereka berbulan madu ke Havana, ibu kota Kuba. Di sana Dorothy meninggal gara-gara diserang penyakit tifus. Berlin langsung menulis lagu tadi untuk menumpahkan segala kepedihan yang dideritanya.
Kisah roman lainnya dialami ketika Berlin berpacaran dengan Ellin Mackay. Koran-koran pun ribut. Ayah Ellin, seorang industrialis barang-barang komunikasi, jadi tahu bahwa putrinya berpacaran denan seorang imigran. Dia berang. Maka, pada tahun 1925, Ellin dikirim ke Eropa.
Berlin lalu menulis lagu Remember dan Always. Kedua lagu itu ternyata cukup populer di Eropa, sehingga Ellin kerap mendengar lewat radio, dan makin cinta kepada Berlin. Tak pelak, Ellin pun pulang ke Amerika. Kedua insan itu melangsungkan perkawinan.
Pada tahun 1954, sebenarnya Berlin sudah menyatakan pensiun. Lalu dia menghabiskan waktu dengan bermain golf, memancing, dan melukis. Tapi? suatu hari gairahnya muncul lagi. Maka, pada bulan Oktober 1962, dia mementaskan sebuah komedi musikal berjudul Mr. President, yang disadur dan buku karangan Russel Crouse dan Howard Lindsay. Pementasan itu dilakukan di gedung St. James Theatre, New York. Hasilnya, panitia berhasil merogoh US$ 2,5 juta dari kantung penonton.
Praginanto
Tempo Edisi. 31/XIX/30 September – 06 Oktober 1989