David Cook, American Idol Baru, Seorang Bartender

LEBIH dari 97 juta suara pemilih telah dihitung. Hasilnya, David Cock menjadi American Idol terbaru.

Bartender berusia 25 tahun asal Blue Springs, Missouri, Amerika Serikat (AS) itu menjadi American Idol ketujuh pada Rabu malam atau kamis malam waktu Indonesia di depan lebih dari 7000 penggemar yang histeris di Nokia Theatre Los Angeles AS

“Saya memulai season ini – dengan banyak kata-kata Simon (Simon Cowell salah satu juri American idol) yang menyakitkan. Dengan ucapannya yang menyakitkan, yang membuat saya benar-benar terkecoh,” ujar Cook di depan massa setelah mendengar berita, merujuk kepada tutur kata Simon yang disorot dalam momen-momen awal kontes tersebut. “Thank you guys. Ini luar biasa. Thank you.”

Setelah Ryan Seacrest, sang pemandu acara, membocorkan berita itu, Cook tampak menahan air matanya. Namun cepat-cepat ia mencoba mengalihkannya dengan memberikan ucapkan selamat kepada pesaingnya di final, David Archuleta si remaja berusia 17 tahun asal Murray, Utah, AS. Read more »

Ratu-ratu Keroncong yang Terus Menghidupkan Musiknya

Kala rembulan di atas langit

Tersenyum menebarkan purnama

Sungguh indah suasana malam

Kerlip bintang-bintang bertaburan

….

BARIS-baris di atas adalah petikan dari lagu baru Rembulan di Atas Langit yang diciptakan Acep Djamaludin dan Senin (13/6) lalu dinyanyikan oleh penyanyi Tuti Tri Sedya dalam acara rekaman yang berlangsung di studio GNP di wilayah Jakarta Pusat.

DALAM sesi siang itu Tuti merekam tak kurang dari enam lagu baru untuk album terbarunya yang akan terbit sekitar sebulan mendatang. Pemimpin GNP Hendarmin Susilo tampak antusias mengikuti proses rekaman. Dalam studio yang kedap suara itu hadir pula dua pencipta lagu yang dinyanyikan Tuti, yakni Acep Djamaludin dan Johny Sulu (yang mencipta lagu Nyanyian Malam). Selain kedap, sound system untuk memantau rekaman juga Read more »

Mus Mulyadi Si Raja Keroncong

Selasa, 15 April 2008
Oleh : Jose Choa Linge/KPMI

Siapa bilang mengusung lagu keroncong dan langgam Jawa hanya dapat dinyanyikan dan dinikmati oleh kalangan orang tua-tua saja? Buktinya, ada generasi muda bernama Mus Mulyadi berhasil membuat pukulan dahsyat di industri musik keroncong yang kala itu dimiliki Gesang, Isnarti, Bram (Aceh) Titaley, Tan Tjeng Bok (Pak Item), Itjih Sumarni dan Waljinah saja.

Semula, Mus Mulyadi menggeluti lagu-lagu pop, tapi malah keroncong dan langgam Jawalah yang membawanya melanglang buana ke berbagai negara, seperti Prancis, Belanda, dan Belgia. Bahkan, kesohoran namanya dikenal di negara Amerika dan Suriname dengan tembang-tembangnya, seperti Rek Ayo Rek, Rondo Ngarep Poma dan Gerimis. Sejak itulah kiprahnya makin menggila dan bukan hanya kancah keroncong dan langgam Jawa saja yang digelutinya, tapi Melayu dan dangdut-pun dirambahnya.

Enam penghargaan diraihnya, membuat namanya makin dikenal, seperti dua Piring Emas untuk lagu Melayu dan dangdut Hitam Manis dan Siksa Kubur (1974, 1978), Anugerah Penyanyi Langgam Jawa Legendaris, dan Kroncong Kreatif (1993), BASF Award XI – Musik Keroncong (1996).

Keluarga seniman
Anak ketiga dari delapan bersaudara ini semula bercita-cita menjadi seorang arsitektur, namun akhirnya lebih lekat dengan tarik suara. Karena hampir setiap hari melihat orang tuanya bermain gamelan mengiringi penyanyi lainnya di masa itu. Mus Mulyadi, lahir di Surabaya, Jatim, 14 Agustus 1945 dan masa kecilnya hingga remaja dihabiskan di kota tersebut. Read more »

Misteri Tewasnya Brian Jones

September 16, 2006

Misteri Tewasnya Brian Jones

KEMATIAN prematur bintang musik rock yang masih diselimuti misteri sampai kini dialami Brian Jones, pendiri Rolling Stones. Sampai kini ada beberapa versi yang dianggap sebagai penyebab kematian Jones yang tenggelam dalam kolam renang di rumahnya di Cotchford Farm, Sussex, 3 Juli 1969 dalam usia 27 tahun.

MENURUT hasil riset wartawan musik, Rob Chapman, dalam majalah Mojo edisi bulan Juli 1999, Jones sesungguhnya merupakan sosok berkepribadian ganda. Di satu pihak ia kasar, namun juga melankolis. Jones bisa bersikap sangat tidak menyenangkan kepada setiap orang di sekitarnya, tetapi juga mempunyai karisma yang membuat kagum siapa pun.

Jika berbicara, Jones berkata-kata dengan lembut dan termasuk pribadi yang pemalu. Namun, dia dikenal juga sebagai peminum alkohol berat yang dipuja-puja oleh banyak perempuan dan sering memiliki beberapa pacar sekaligus. “Singkat kata, Brian pribadi yang sangat tidak menyenangkan,” kata penabuh drum Stones, Charlie Watts. Read more »

Band-band Beralbum Tunggal

Oleh Denny Sakrie/KPMI

Di sepanjang karier musiknya, ada beberapa kelompok musik atau band yang hanya mampu menghasilkan sebuah album. Penyebabnya bisa beraneka ragam. Mulai dari pergeseran konsep musiknya hingga pergeseran formasi pemainnya.

Bahkan, bisa juga akibat dampak dari pergeseran tren musik. Misalnya, sebuah kelompok musik hanya sempat merilis album di saat sebuah tren sesaat tengah menghampiri industri musik.

Sebut saja Solid’80. Kelompok musik yang bermuasal dari kegiatan musik mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) angkatan 1980 ini bisa dimaklumi hanya sempat merilis sebuah album bertajuk Equivalent. Album ini dirilis pada 1985. Read more »

Lagu dalam Soundtrack Film Indonesia

Yang membekas di benak penonton adalah adegan yang dilatari komposisi lagu.
Dengan tergesa-gesa Dwi dan Sri berlari meninggalkan rumah, meninggalkan Pak Lik, sang suami yang beristri empat, tanpa pesan sama sekali. Mereka sepakat meninggalkan keruwetan rumah tangga yang unik itu. Adegan film Berbagi Suami yang dibesut Nia di Nata ini dilatari lagu lawas karya Iskandar Pergi tanpa Pesan yang di-remake grup band Sore.

Adegan itu terasa kontekstual dengan soundtrack lagunya, meskipun berbeda era. Tak ada kesan pemaksaan. Dan secara keseluruhan soundtrack film itu memang tidak mengintimidasi, melainkan menjadi bagian yang sinergis dari film.

Idealnya sebuah soundtrack memang seperti itu. Antara adegan atau setting film dan music score bersimbiosis mutualisme. Tegasnya, harus kawin. Album Berbagi Suami (Aksara Records), yang mengetengahkan music score dan sederet lagu, bisa dianggap satu contoh yang bagus untuk soundtrack film Indonesia saat ini. Read more »

Jejak Album Soundtrack Film Indonesia

Dua insan bertemu muka
bagai merpati sejoli
berpandangan,bertatapan
berpasangan di persimpangan

Kasih bibirmu merah delima
wangi seperti rambutmu
halus bagai angin senja
sesuci semurni kasihmu
aku terperangkap dalam pelukan
cinta pertama

Lirik bermuatan romantisme yang dilantunkan penyanyi Anna Mathovani ini mengiringi langkah Ade (Christine Hakim) dan Bastian (Slamet Rahardjo) dalam film Cinta Pertama (1973) besutan sutradara almarhum Teguh Karya. Lagu yang diciptakan Idris Sardi ini sangat populer pada zamannya. Apalagi, pada Festival Film Indonesia (FFI 1974) Idris Sardi berhasil meraih Piala Citra untuk Ilustrasi Musiknya. Read more »

Kisah Dua Biola Ajaib (“Zaubergeigen”)

- Tentang Idris Sardi dan Helmut Zacharias

BIOLA Jiwaku memang judul lagu ciptaan Mochtar Embut, tetapi pastilah itu juga semboyan Helmut Zacharias dan Idris Sardi. Kedua nama terakhir ini dikenal sebagai violis yang pernah mengembangkan musik hiburan dengan ciri khas masing-masing.

THE Violin Was His Soul juga menjadi judul Gema News 162 tatkala mengulas tentang Helmy–panggilan akrab Helmut–khususnya ketika violis ini merayakan ulang tahunnya yang ke-80 pada 27 Januari 2000 lalu.

Lalu mengapa kedua nama itu disandingkan dalam tulisan ini? Helmut Zacharias–selanjutnya HZ–dijuluki empu biola yang menghibur dan membuai. Idris Sardi pada satu saat di masa lalu sempat dijuluki “HZ Indonesia”. Boleh jadi seperti halnya HZ, penampilan Idris di tempat hiburan seperti di Wisma Nusantara, Jakarta, tidak saja menggerakkan Read more »

Keabadian Rock Klasik

APA yang membuat musik era 1970-an tetap abadi hingga kini? Dalam sebuah edisinya baru-baru ini, majalah Time menyandingkan The Beatles dengan sebuah boysband masa kini bernama NSync, dengan pertanyaan, apakah 30 tahun kemudian kita masih bisa mendengar NSync? Musik memang melekat dalam hidup sebagian besar manusia, terutama saat remaja hingga awal masa dewasa, umumnya melekat sepanjang hidup, yang menjadi nostalgia yang terasa indah dan menyenangkan ketika didengar lagi berpuluh-puluh tahun kemudian.

Edward Macan, dalam bukunya berjudul Rocking The Classic-English Progressive Rock and the Counterculture, berpendapat bahwa tidak satu pun musik yang berada di luar masyarakatnya. Johan Sebastian Bach dan Ludwig van Beethoven, misalnya, adalah sosok dari tempat dan masa tertentu, seperti halnya Blind Lemon Jefferson atau Charlie Parker. Jika tak satu pun musik bisa benar-benar asosial, maka tak satu musik pula yang mampu bertahan dimakan zaman. Dengan kata lain, musik yang erat dengan situasi masyarakat, akan tak lekang dimakan jaman.

Memang, tak peduli betapa kuatnya pengaruh musik pada audiens kontemporer, atau bahkan beberapa generasi, masyarakat tetap mengalami perubahan. Oleh sebab itu, selalu tiba saat di mana setiap jenis musik kehilangan daya cengkeramnya pada budaya massal, dan menjadi peninggalan sejarah yang hanya akan dinikmati oleh makin sedikit orang. Dan, faktor keterkaitan musik dengan situasi masyarakat tersebut, apalagi jika situasinya adalah situasi yang mendunia, menjadikan jenis musik tersebut awet, setidaknya di kalangan penikmatnya.

Deep Purple-seperti halnya The Rolling Stones, Led Zeppelin, The Beatles, Yes, Genesis, Pink Floyd, King Crimson, The Who, dan banyak lagi-adalah sosok yang mewakili generasi 1970-an, yang di belahan bumi Barat menyebut diri sebagai flower generation. Di milenium ketiga ini, musisi-musisi rock era 1970-an tersebut, memang mulai menjelang masa menjadi peninggalan sejarah.

Penikmatnya tentu tak sebanyak penikmat musisi masa kini, seperti jumlah remaja sekarang di seluruh dunia yang menjadi konsumen Britney Spears dan sekian boysband. Namun, daya cengkeram Deep Purple dan lain-lainnya, masih kuat. Tidak hanya pada remaja tempo dulu, namun juga pada sebagian lain generasi muda yang mengkonsumsi musik secara lebih serius.

Mengapa musik rock klasik bisa abadi? Sebagian berpendapat, rock klasik adalah jenis rock yang lahir dan populer di tahun 1970-an, saat musik rock mencapai puncaknya. Pendapat lain menyebutkan, sebuah jenis musik atau sebuah grup sudah bisa disebut klasik jika sudah berusia minimal 15 tahun. Kedua definisi ini berlaku pada musik-musik rock klasik era 1970-an.

Menurut Macan, musik tak bisa lepas dari masyarakat, dalam hal ini situasi yang melingkupi masyarakat tersebut, yang melahirkan emosi tertentu yang dituangkan dalam karya musik. Apa yang terjadi di era 1970-an adalah pengalaman yang membekas di benak sebagian umat manusia masa itu, yaitu invasi pasukan AS di Vietnam, yang mulai terjadi sekitar tahun 1966-1967.

***

INSPIRASI penulisan lirik rock baru terbuka di pertengahan era 1970-an, saat meletusnya perang Vietnam. The Beatles, Led Zeppelin, Pink Floyd, dan banyak lagi grup lainnya yang disebut sebagai band rock klasik, menyuarakan situasi sosial ini dalam lirik-liriknya. Genre art-rock, atau yang sekarang populer disebut rock progresif, sempat dianggap tidak berkonotasi sosial. Liriknya memang umumnya berkisar pada narasi mitologis, kisah science-fiction, dan kalimat-kalimat pseudo-ritualis. Bahkan, kelompok punk-rock di akhir era 1970-an, menyebut lirik rock progresif sebagai pelarian dari dunia nyata.

Beda dengan lirik musik hard-rock, yang cenderung melihat situasi sosial dari sudut pandang yang lebih “lembut”. Mereka menggemakan sebuah solusi bagi problem-problem masyarakat melalui perubahan spiritual, bukan kegiatan politik. Banyak musisiknya beranggapan bahwa musik mereka memiliki sikap revolusioner yang jauh lebih potensial dibandingkan sistem politik apa pun.

Di era 1970-an, gema musik rock amatlah besar, lebih besar dari jenis musik apapun. Rock menjadi gaya hidup yang dianut generasi muda di seluruh dunia, yang ditandai dengan munculnya grup-grup yang legendaris hingga kini, dan maraknya industri dan media massa rock saat itu. Di Indonesia, semangat itu juga masuk, antara lain melalui gaya hidup generasi muda Jakarta.

Lalu kenapa penyerapan yang sebagian besar hanya sampai di permukaan itu bisa abadi juga di kalangan remaja Indonesia saat itu, yang tentunya hari ini minimal sudah berumur 40 tahun? Pandu Ganesa, seorang wiraswasta, “Musik rock zaman itu adalah musik yang membuat kita mikir, baik dari notasi, apalagi liriknya. Musik tersebut didesain secara khusus, ada proses pembelajaran yang agak sulit sebelum kita mengapresiasinya.”

Sementara itu, remaja-remaja masa kini pun sebagian menjadi penyambung selera rok klasik. Misalnya, lewat Dream Theater yang mirip Yes dan Pink Floyd. Atau The Flower Kings yang mendaur ulang karya The Beatles Across The Universe. Bagi yang bisa menangkap siaran TPI, tiap Senin malam bisa bernostalgia mengenang masa muda sambil menikmati konser grup-grup yang mewarnai masa remaja mereka, dalam acara Classic Rock Specials.

Menurut Agus Sjafrudin, Direktur Program dan Marketing TPI, sebagai sebuah acara musik, Classic Rock Specials mendapat rating yang lumayan. Beberapa penonton setia dari luar kota bahkan rutin menghubungi TPI via telepon, menanyakan grup mana yang akan tayang, atau meminta grup favoritnya ditayangkan, hingga meminta rekaman acara terse senjata tajam ke Mapoltabes Banjarmasin. bra

Kompas Senin, 29 April 2002

Irving berlin telah tiada

Irving berlin, pemusik tersohor, meninggal dunia. ia menciptakan lagu kebangsaan as, god bless america. lagu-lagu ciptaannya laku keras.ia tak tahu & tak pernah belajar bagaimana membaca & menulis not balok.

DIA mengembuskan napas pada hari Jumat pekan lalu di rumahnya yang terletak di kawasan elite di New York. Saat itu dia berusia 101 tahun. Dunia pun tersentak. Bukan karena hanya seseorang yang berumur melebihi satu abad telah tiada, tetapi dia adalah Irving Berlin. Pemusik yang menciptakan lagu kebangsaaan Amerika Serikat, God Bless America. Dia jugalah pencipta I’m Dreaming of a White Christmas yang setiap hari Natal bergema di seluruh dunia.

Berlin dilahirkan di Desa Temun, Rusia Timur, pada tahun 1888 dengan nama Israel Beline. Ayahnya, Moses Beline, adalah penyanyi sinagog dan shochet, pemberi doa dalam upacara penyembelihan hewan. Pada tahun 1893, keluarganya berimigrasi ke New York. Sialnya, tiga tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Beline muda terpaksa bekerja.

Semula Israel Beline menjadi tukang jual koran di jalan. Tak lama kemudian, dia pindah profesi menjadi penunjuk jalan bagi seorang pengamen buta bernama Blind Sol. Tugasnya adalah mengantar penyayi itu keluar masuk restoran dan menghitungkan jumlah duit yang masuk. Saat itu Beline berambisi membelikan sebuah kursi goyang untuk neneknya.

Setelah berpisah dengan Blind Sol, Israel Beline mulai merintis karier. Dia menjadi penyanyi tak tetap di berbagai bar dengan bayaran bergantung pada persenan yang diberikan oleh tamu. Pada tahun 1906, ia menjadi pelayan merangkap penyanyi tetap di Pelham Cafe, Chinatown, New York.

Pada malam hari, setelah barnya tutup, ia suka memenceti tuts piano untuk menciptakan lagu. Hasilnya, pada tahun 1907, dia menciptakan lagu Marie From Sunny Italy. Lagu itu memang tak laku di pasar. Tapi lagu itulah yang kemudian mengubah nama Israel Beline. Pada sampul rekaman, nama Israel Beline ditulis I. Berlin, dan khalayak mengira I singkatan dari Irving. Nah,
jadilah nama Irving Berlin, dan nama itulah dipakai dan laku sampai akhir hayatnya.

Bakatnya memang luar biasa. Dalam usia 30 tahun, ia menghasilkan 19 lagu untuk pentas Broadway dan 18 lagu pengiring film Hollywood. Padahal, dia tak tahu dan tak pernah belajar bagaimana membaca dan menulis not balok. Lagi pula dia hanya bisa bermain musik pada nada F. Dalam mencipta lagu dia hanya memakai satu jari di atas tuts piano. Pekerjaan selanjutnya dia
serahkan kepada pengaransir.

Popularitas Berlin mulai meledak pada tahun 1911, ketika menciptakan lagu Alexander’s Ragtime Band. Lalu disusul dengan berderet-deret lagu lain, sampai mencapai 1.500 lagu. Agar tak dijarah pembajak, pada tahun 1919. dia mendirikan Irving Berlin Music Corp. Perusahaan itu dipakai untuk mempublikasikan karya-karyanya, sekaligus mempertahankan hak cipta.

Sebelum itu, pada tahun 1917, Berlin kena wajib militer. Dia ditugaskan di Camp Upton, Long Island, tempat pemberangkatan serdadu Amerika yang mau bertugas di medan Perang Dunia Pertama di Eropa. Di sana dia mendapat tugas membuat lagu untuk komedi musikal berjudul Yip, Yip, Yaphank, yang dibintangi oleh para serdadu Camp Upton. Pementasan tak serius itu ternyata berhasil bertahan selama 32 kali pertunjukan di Century Theatre, New York, dan menghasilkan US$ 150 ribu yang seluruhnya dipakai
untuk barak Camp Upton.

Ada satu hal yang menarik dari Yip, Yip, Yaphank. Ada kalimat yang berbunyi, “Oh, betapa bencinya saya bangun di pagi hari.” Kalimat itu dipetik dari kebiasaannya yang selalu tidur setelah lewat tengah malam. Berlin ternyata tak suka bekerja pada pagi hari.

Jasa kedua kepada angkatan bersenjata dipersembahkan Berlin lewat This is the Army. pada bulan-bulan pertama Perang Dunia Kedua. Pementasan itu ditangani sepenuhnya oleh Berlin. Dia menjadi produser, sutradara sekaligus penulis lagu. Dua lagu dan pementasan itu, This is the Army, Mr. Jones dan I Left My Heart at the Stage Door Canteen, menghasilkan sejuta dolar bagi
Bantuan Darurat Angkatan Darat.

Kekayaan Berlin makin bertumpuk ketika para penyanyi kelas satu mulai mengincar lagu-lagunya. Di antaranya tercatat Frank Sinatra, Barbara Streisand, Linda Ronstadt, Diana Ross. Dua lagunya, I’m Dreaming of a White Christmas dan Easter Parade bahkan direkam berulang kali oleh penyanyi yang berbeda-beda, serta selalu laku dijual.

Tapi, lagu yang paling berkesan bagi Berlin adalah When I Lost You yang, menghasilkan lebih dari sejuta piringan hitam. Lagu itu bermula pada tahun 1912, ketika dia kawin dengan Dorothy Goetz, adik penulis lagu terkenal, Ray Goetz. Setengah tahun kemudian, mereka berbulan madu ke Havana, ibu kota Kuba. Di sana Dorothy meninggal gara-gara diserang penyakit tifus. Berlin langsung menulis lagu tadi untuk menumpahkan segala kepedihan yang dideritanya.

Kisah roman lainnya dialami ketika Berlin berpacaran dengan Ellin Mackay. Koran-koran pun ribut. Ayah Ellin, seorang industrialis barang-barang komunikasi, jadi tahu bahwa putrinya berpacaran denan seorang imigran. Dia berang. Maka, pada tahun 1925, Ellin dikirim ke Eropa.

Berlin lalu menulis lagu Remember dan Always. Kedua lagu itu ternyata cukup populer di Eropa, sehingga Ellin kerap mendengar lewat radio, dan makin cinta kepada Berlin. Tak pelak, Ellin pun pulang ke Amerika. Kedua insan itu melangsungkan perkawinan.

Pada tahun 1954, sebenarnya Berlin sudah menyatakan pensiun. Lalu dia menghabiskan waktu dengan bermain golf, memancing, dan melukis. Tapi? suatu hari gairahnya muncul lagi. Maka, pada bulan Oktober 1962, dia mementaskan sebuah komedi musikal berjudul Mr. President, yang disadur dan buku karangan Russel Crouse dan Howard Lindsay. Pementasan itu dilakukan di gedung St. James Theatre, New York. Hasilnya, panitia berhasil merogoh US$ 2,5 juta dari kantung penonton.

Praginanto

Tempo Edisi. 31/XIX/30 September – 06 Oktober 1989