APA yang membuat musik era 1970-an tetap abadi hingga kini? Dalam sebuah edisinya baru-baru ini, majalah Time menyandingkan The Beatles dengan sebuah boysband masa kini bernama NSync, dengan pertanyaan, apakah 30 tahun kemudian kita masih bisa mendengar NSync? Musik memang melekat dalam hidup sebagian besar manusia, terutama saat remaja hingga awal masa dewasa, umumnya melekat sepanjang hidup, yang menjadi nostalgia yang terasa indah dan menyenangkan ketika didengar lagi berpuluh-puluh tahun kemudian.
Edward Macan, dalam bukunya berjudul Rocking The Classic-English Progressive Rock and the Counterculture, berpendapat bahwa tidak satu pun musik yang berada di luar masyarakatnya. Johan Sebastian Bach dan Ludwig van Beethoven, misalnya, adalah sosok dari tempat dan masa tertentu, seperti halnya Blind Lemon Jefferson atau Charlie Parker. Jika tak satu pun musik bisa benar-benar asosial, maka tak satu musik pula yang mampu bertahan dimakan zaman. Dengan kata lain, musik yang erat dengan situasi masyarakat, akan tak lekang dimakan jaman.
Memang, tak peduli betapa kuatnya pengaruh musik pada audiens kontemporer, atau bahkan beberapa generasi, masyarakat tetap mengalami perubahan. Oleh sebab itu, selalu tiba saat di mana setiap jenis musik kehilangan daya cengkeramnya pada budaya massal, dan menjadi peninggalan sejarah yang hanya akan dinikmati oleh makin sedikit orang. Dan, faktor keterkaitan musik dengan situasi masyarakat tersebut, apalagi jika situasinya adalah situasi yang mendunia, menjadikan jenis musik tersebut awet, setidaknya di kalangan penikmatnya.
Deep Purple-seperti halnya The Rolling Stones, Led Zeppelin, The Beatles, Yes, Genesis, Pink Floyd, King Crimson, The Who, dan banyak lagi-adalah sosok yang mewakili generasi 1970-an, yang di belahan bumi Barat menyebut diri sebagai flower generation. Di milenium ketiga ini, musisi-musisi rock era 1970-an tersebut, memang mulai menjelang masa menjadi peninggalan sejarah.
Penikmatnya tentu tak sebanyak penikmat musisi masa kini, seperti jumlah remaja sekarang di seluruh dunia yang menjadi konsumen Britney Spears dan sekian boysband. Namun, daya cengkeram Deep Purple dan lain-lainnya, masih kuat. Tidak hanya pada remaja tempo dulu, namun juga pada sebagian lain generasi muda yang mengkonsumsi musik secara lebih serius.
Mengapa musik rock klasik bisa abadi? Sebagian berpendapat, rock klasik adalah jenis rock yang lahir dan populer di tahun 1970-an, saat musik rock mencapai puncaknya. Pendapat lain menyebutkan, sebuah jenis musik atau sebuah grup sudah bisa disebut klasik jika sudah berusia minimal 15 tahun. Kedua definisi ini berlaku pada musik-musik rock klasik era 1970-an.
Menurut Macan, musik tak bisa lepas dari masyarakat, dalam hal ini situasi yang melingkupi masyarakat tersebut, yang melahirkan emosi tertentu yang dituangkan dalam karya musik. Apa yang terjadi di era 1970-an adalah pengalaman yang membekas di benak sebagian umat manusia masa itu, yaitu invasi pasukan AS di Vietnam, yang mulai terjadi sekitar tahun 1966-1967.
***
INSPIRASI penulisan lirik rock baru terbuka di pertengahan era 1970-an, saat meletusnya perang Vietnam. The Beatles, Led Zeppelin, Pink Floyd, dan banyak lagi grup lainnya yang disebut sebagai band rock klasik, menyuarakan situasi sosial ini dalam lirik-liriknya. Genre art-rock, atau yang sekarang populer disebut rock progresif, sempat dianggap tidak berkonotasi sosial. Liriknya memang umumnya berkisar pada narasi mitologis, kisah science-fiction, dan kalimat-kalimat pseudo-ritualis. Bahkan, kelompok punk-rock di akhir era 1970-an, menyebut lirik rock progresif sebagai pelarian dari dunia nyata.
Beda dengan lirik musik hard-rock, yang cenderung melihat situasi sosial dari sudut pandang yang lebih “lembut”. Mereka menggemakan sebuah solusi bagi problem-problem masyarakat melalui perubahan spiritual, bukan kegiatan politik. Banyak musisiknya beranggapan bahwa musik mereka memiliki sikap revolusioner yang jauh lebih potensial dibandingkan sistem politik apa pun.
Di era 1970-an, gema musik rock amatlah besar, lebih besar dari jenis musik apapun. Rock menjadi gaya hidup yang dianut generasi muda di seluruh dunia, yang ditandai dengan munculnya grup-grup yang legendaris hingga kini, dan maraknya industri dan media massa rock saat itu. Di Indonesia, semangat itu juga masuk, antara lain melalui gaya hidup generasi muda Jakarta.
Lalu kenapa penyerapan yang sebagian besar hanya sampai di permukaan itu bisa abadi juga di kalangan remaja Indonesia saat itu, yang tentunya hari ini minimal sudah berumur 40 tahun? Pandu Ganesa, seorang wiraswasta, “Musik rock zaman itu adalah musik yang membuat kita mikir, baik dari notasi, apalagi liriknya. Musik tersebut didesain secara khusus, ada proses pembelajaran yang agak sulit sebelum kita mengapresiasinya.”
Sementara itu, remaja-remaja masa kini pun sebagian menjadi penyambung selera rok klasik. Misalnya, lewat Dream Theater yang mirip Yes dan Pink Floyd. Atau The Flower Kings yang mendaur ulang karya The Beatles Across The Universe. Bagi yang bisa menangkap siaran TPI, tiap Senin malam bisa bernostalgia mengenang masa muda sambil menikmati konser grup-grup yang mewarnai masa remaja mereka, dalam acara Classic Rock Specials.
Menurut Agus Sjafrudin, Direktur Program dan Marketing TPI, sebagai sebuah acara musik, Classic Rock Specials mendapat rating yang lumayan. Beberapa penonton setia dari luar kota bahkan rutin menghubungi TPI via telepon, menanyakan grup mana yang akan tayang, atau meminta grup favoritnya ditayangkan, hingga meminta rekaman acara terse senjata tajam ke Mapoltabes Banjarmasin. bra
Kompas Senin, 29 April 2002
Filed under: History