- Tentang Idris Sardi dan Helmut Zacharias
BIOLA Jiwaku memang judul lagu ciptaan Mochtar Embut, tetapi pastilah itu juga semboyan Helmut Zacharias dan Idris Sardi. Kedua nama terakhir ini dikenal sebagai violis yang pernah mengembangkan musik hiburan dengan ciri khas masing-masing.
THE Violin Was His Soul juga menjadi judul Gema News 162 tatkala mengulas tentang Helmy–panggilan akrab Helmut–khususnya ketika violis ini merayakan ulang tahunnya yang ke-80 pada 27 Januari 2000 lalu.
Lalu mengapa kedua nama itu disandingkan dalam tulisan ini? Helmut Zacharias–selanjutnya HZ–dijuluki empu biola yang menghibur dan membuai. Idris Sardi pada satu saat di masa lalu sempat dijuluki “HZ Indonesia”. Boleh jadi seperti halnya HZ, penampilan Idris di tempat hiburan seperti di Wisma Nusantara, Jakarta, tidak saja menggerakkan pengunjung–lokal dan bule–untuk berdansa di dua lantai yang tersedia.
Come Prima (ciptaan Paolo Taccani), Jalousie (Jacob Gade), juga Czardas (Monti) adalah lagu-lagu populer yang di masa lalu menjadi favorit Idris Sardi dengan ansambel beranggotakan 17 orangnya. Czardas, khususnya, dikenal sebagai lagu pengantar minum Hongaria yang memang tampaknya digubah untuk dihadirkan dalam pesta, dan lazimnya dimainkan sebagai lagu terakhir.
Menyusuri kembali jejak karier dan permainan biola HZ dan Idris Sardi mungkin dapat kembali menyegarkan ingatan tentang salah satu genre dalam musik hiburan. Mengapa kedua nama tersebut disandingkan? Karena di masa lalu tidak sedikit orang di sini yang mengasosiasikan Idris dengan Helmy, dan ternyata di sana-sini ternyata keduanya punya latar belakang kehidupan mirip. Idris menuturkan, dulu ia sering mengikuti persis-persis permainan biola Helmy saat piringan hitam pemusik Jerman ini diputar.
FRED Weyrich adalah orang Jerman sobat HZ yang banyak mengikuti perjalanan idolanya itu. Meski sobat ini telah tutup usia 30 Desember 1999, ia sempat meninggalkan catatan yang menarik tentang HZ. Ia memulai kisahnya dengan sebuah anekdot.
Surga di atas sana, katanya, juga diisi oleh biola. Satu saat terjadi perdebatan secara fortissimo di antara mereka. Topiknya mengenai siapa di antara mereka yang telah dimainkan oleh solois paling masyhur saat berinkarnasi di dunia.
Masing-masing bersikeras, “pemainku adalah yang paling terkenal.” “Mari kita tanya mereka saja,” ujar Stradivarius yang arogan. “Solois kita toh semua sudah ada di sini, di distrik surga bernama Sordino Finale!”
Itu lalu memicu pula argumen di antara violis hebat. Barnabas von Geczy berdebat dengan Stephane Grappelli, Menuhin dengan Oistrach. Jebakan terbesar menyangkut biola Paganini.
St Petrus tentu saja tidak senang dengan kejadian itu, dan ia pun mengatakan: “E malulah kalian, penghuni sombong yang tidak menghormati tuan rumah. Tetapi saya harus mempertajam nada di sini. Kalian semua lupa, bahwa sebuah biola yang jauh lebih masyhur daripada biola kalian semua sekarang ini masih ada di Bumi dan tidak meninggalkan sisi empunya, dan terus menjaga mimpinya. Ia lah yang paling terkenal: Helmut Zacharias.” Semua–solois dan biola mereka–lalu kembali ke distriknya masing-masing molto lamentoso.
Ya, itu sekadar riwayat kecil. Tetapi bahwa itu pernah diceritakan, pesannya jelas, yaitu sebagai pengakuan pada kemasyhuran HZ. Di balik kemasyhuran itu, HZ tetap rendah hati, malah cenderung kagok. Ia tak pernah bersikap bak seorang bintang, meskipun kenyataan demikian.
Hanya saja “biola belahan jiwa” itu sejak dua tahun terakhir sebelum HZ berusia 80 hanya bisa tergeletak di sisinya, karena memori pemainnya telah dirongrong oleh penyakit Alzeimer, yang tak seorang pun dapat menolongnya, tidak juga Hella, istrinya, serta anak- anaknya.
HZ, dan juga Idris Sardi, bahkan sedari embrio sudah berlimpah dalam musik. Ayah HZ adalah violis dan kepala kapel, sementara ibunya seorang penyanyi. Tak lama setelah bisa berdiri, pada usia 2,5 tahun, ayahnya telah menaruh sebuah biola di tangannya. Dasar berbakat, tak lama kemudian HZ kecil bisa memainkan Hanschen Klein dengan instrumen itu. Lalu sebelum mengenal ABC, HZ sudah fasih dengan not, membuat ayahnya memikirkan untuk memberi anaknya yang saat itu berusia 4,5 tahun pendidikan musik serius. Subyek pertamanya tentu saja: biola.
Pada usia enam tahun, Helmut sudah naik sebuah panggung kabaret Faun on Friedrichstrasse dan memperlihatkan pada para warga Berlin apa yang mampu ia mainkan. Itulah tangga pertama menuju sukses.
Menurut catatan Fred Weyrich, HZ membuat debut radio dengan memainkan Konserto Biola Mozart dalam G Mayor saat ia berusia 11 tahun. Tidak mengherankan kalau Mozart merupakan sebagian repertoar favoritnya, keduanya toh berulang tahun pada tanggal yang sama, 27 Januari.
Ketika berusia 14 tahun, HZ sudah berkonser di luar batas Kota Berlin, sampai kemudian pada tahun 1935, saat berusia 15 tahun, HZ sudah tampil di teater Wintergarten Berlin, satu ibu kota dunia, sebagai virtuos biola.
Penghargaan dan karier cemerlang terus mengiringi HZ, apalagi ia juga lolos dari Perang Dunia II. Dalam perkembangannya, HZ menemukan satu jenis musik menyenangkan, namun dalam jenis yang sepenuhnya berbeda dari apa yang ia geluti sejauh itu, yakni swing. Sebenarnya swing sudah hadir di Jerman sejak tahun 1936, tetapi segera dilarang oleh Dr Goebbels. Di lingkungan Nazi, impor dari Amerika itu sempat dianggap sebagai “musik Negro dekaden”.
Namun, toh akhirnya pada tahun 1941 HZ bisa menampilkan dan merekam musik swing bersama lima pemusik lain di Berlin. “Violis musik klasik yang duduk”, kini telah berubah menjadi “violis swing yang berdiri”.
Seusai PD II, kegiatan rekaman Deutsche Grammophon aktif lagi dan banyak mencari bintang untuk diorbitkan dengan label Polydor. HZ yang ikut terpilih di antara bintang lalu menemukan itu sebagai jalan untuk merambah karier internasional. Pada tahun 1950, permainan HZ sudah diperdengarkan di semua radio Jerman, dengan AFN Frankfurt menyebutnya sebagai “violis jazz terbaik di dunia”. Di Hamburg-lah HZ membuat rekaman mengesankan, baik sebagai solois, komposer, penata musik, dan konduktor orkes besar dan kecil.
HZ membuat dunia tergerak dengan swing melalui lagu Wenn der Weisse Flieder Wieder Bluht (“When the White Lilac Blooms Again”).
SEBAGAIMANA HZ yang dikenal punya kemampuan unik untuk menata musik gesek, brass, serta biola solo, di sini pun Idris punya kemampuan seperti itu.
Violis yang akan tampil lagi 18 Juni 2003 mendatang di Jakarta ini dalam berbagai hal memiliki kemiripan dengan HZ. Misalnya tentang latar belakang seni pada ayah-ibu, Idris pun juga demikian, dengan bapak instrumentalis klasik dan ibu pemain film.
Sebagaimana HZ yang mendapat biola pada usia muda, Idris pun demikian, dan diikuti dengan disiplin latihan yang sangat keras, seperti bangun pukul 05.00 untuk berlatih nada-nada panjang. Ia akan kena jewer keras bila permainannya fals.
Lalu bila HZ setelah memainkan banyak konserto klasik beralih ke swing, Idris pun menempuh jalan serupa. Pilihannya bukan sekadar swing, tetapi pengembaraan ke berbagai musik Indonesia. Dalam perjalanan kariernya, Idris lebih terpanggil untuk memainkan Bengawan Solo dan Es Lilin daripada Czardas atau Jalousie.
Namun ketika merefleksikan perjalanan permainan biolanya, Idris yang cenderung merendah mengatakan, apa pun yang akan dimainkan, yang ingin main harus mempelajari teknik yang benar, dalam hal ini adalah melalui jalur pendidikan musik klasik.
Sambil mengakui kembali bahwa memainkan biola merupakan hal sulit, Idris mengenang kembali pelajaran-pelajaran yang dulu pernah ia tekuni. Antara lain dikatakan, menggesek biola yang baik memang bertujuan untuk menghasilkan musik yang baik, yang tidak boleh cacat. Itu sebabnya ia banyak menjelajahi teknik, misalnya untuk mengetahui bahwa kekuatan permainan ada di ruas-ruas jari, tidak pada lengan.
Idris yang juga akan memperingati 50 tahun karier profesionalnya–yang ditetapkan sejak ia menjadi concert master di Orkes Simfoni Jakarta tahun 1953–lahir 7 Juni 1938 dan mulai belajar biola saat berusia tujuh tahun (tahun 1945).
Setelah melanglang ke musik biola Barat, hati Idris memang lebih tertambat pada musik- musik gubahan Indonesia, yang meski digubah dengan teknik Barat dan ditulis dalam not yang juga Barat, tetapi hanya akan bagus bila dimainkan dengan jiwa Indonesia.
Mungkin jiwa itu sendiri lalu memang tumbuh setelah ayahnya dulu sering mengajaknya bertandang ke rumah komponis Ismail Marzuki, yang dikenal sebagai pencipta lagu-lagu (perjuangan) yang sangat kuat bernuansa Indonesia.
Semula Idris pun tidak percaya, bahwa ada elemen ruh dalam permainan musik, mengingat semula ia melihat biola merupakan instrumen Barat. Namun dalam perjalanan, Idris memang berhasil menemukan cengkok dalam musik, hal yang membuat musik India terdengar India, musik Cina terdengar Cina. Idris selanjutnya terpanggil untuk mendalami musik keroncong, bahkan musik Minang, dan musik dangdut sekalipun.
MENJELANG penampilannya kembali, Idris yang menjelang usia 65 tahun tentulah punya concern terhadap permainan biola di negerinya. Sebagai sosok yang telah menyusuri jalan panjang permainan biola, ia telah fasih menceritakan, bagaimana main biola tidak saja menuntut konsentrasi pada tangan kiri, tangan kanan, membuka telinga, tetapi juga kehalusan rasa.
Generasi muda Indonesia mungkin kini telah punya lebih banyak kesempatan untuk mempelajari instrumen ini dengan metode-metode lebih baik, apakah itu dengan membaca buku Suzuki, Hohmann, dan lain sebagainya. Metode tersebut, yang perlu dicamkan adalah tidak saja untuk mengembangkan teknik, tetapi juga kepekaan bermain (roso).
“Yang terpenting, selain bakat yang dibutuhkan untuk belajar biola adalah kecintaan yang besar terhadap instrumen ini, serta punya motivasi hidup jelas,” ujar Idris, Rabu (14/5) sore lalu, di Jakarta.
Satu hal yang dapat dipetik dari Idris selain teknik biola adalah semangat cinta Tanah Air. Mendengar Idris main biola serta-merta terasa bahwa yang main adalah seorang insan yang tumbuh di negeri ini. Ini juga mengingatkan orang pada permainan piano Nick Mamahit. (Ninok Leksono)
Kompas Sabtu, 17 Mei 2003
Filed under: History