Kala rembulan di atas langit
Tersenyum menebarkan purnama
Sungguh indah suasana malam
Kerlip bintang-bintang bertaburan
….
BARIS-baris di atas adalah petikan dari lagu baru Rembulan di Atas Langit yang diciptakan Acep Djamaludin dan Senin (13/6) lalu dinyanyikan oleh penyanyi Tuti Tri Sedya dalam acara rekaman yang berlangsung di studio GNP di wilayah Jakarta Pusat.
DALAM sesi siang itu Tuti merekam tak kurang dari enam lagu baru untuk album terbarunya yang akan terbit sekitar sebulan mendatang. Pemimpin GNP Hendarmin Susilo tampak antusias mengikuti proses rekaman. Dalam studio yang kedap suara itu hadir pula dua pencipta lagu yang dinyanyikan Tuti, yakni Acep Djamaludin dan Johny Sulu (yang mencipta lagu Nyanyian Malam). Selain kedap, sound system untuk memantau rekaman juga berkualitas prima sehingga musik benar-benar terdengar nikmat di telinga. Tak heran, menunggu rekaman penyanyi bersuara merdu di ruangan studio itu sama sekali bukan hal yang menjemukan.
Sebagai penyanyi keroncong, Tuti menjalani hari-hari yang sibuk, baik untuk menyanyi maupun bersosialisasi. Setelah merampungkan sesi pemotretan untuk album, Jumat ini, ia terbang ke Solo, diminta Gubernur Jawa Tengah tampil di depan Presiden yang tengah berkunjung ke provinsi ini.
Tuti juga sebenarnya dijadwalkan ke Turki, hanya saja acara ini ditunda pada September mendatang. Sebelum ini Agustus tahun silam ia show di London dan September ke Yunani. April lalu ia juga tampil menghibur istri-istri pemimpin negara Asia-Afrika di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama Sundari Soekotjo.
Juara Bintang Radio dan TV untuk jenis keroncong tahun 1986 ini akan kembali Sabtu (18/6) dan kemudian berumroh bersama dua anaknya.
SEPERTI halnya Tuti Tri Sedya, ratu keroncong yang lain-Sundari Soekotjo-juga tak kalah sibuknya. Terakhir Sundari yang akrab disapa Mbak Unti ini tampil dengan mengesankan di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta. Pesta rakyat di pusat budaya yang diprakarsai P Swantoro ini meninggalkan kesan tidak saja bagi pengasuh Rumah Tembi, tetapi juga bagi masyarakat yang hadir karena Sundari dapat berinteraksi dengan akrab dan kocak dengan audiens.
Sundari yang menjadi juara pertama jenis keroncong pada lomba Bintang Radio dan TV tahun 1982 juga terus meluncurkan album. Terakhir ia ambil bagian dalam album Keroncong Jenaka yang juga menampilkan Mus Mulyadi, Waljinah, Toto Salmon, Sukardi, Mamiek Marsudi, Hetty Handayani, Sri Widadi, dan Sri Dian P. Suaranya yang khas dan elok antara lain melantunkan duet bersama Mus Mulyadi membawakan lagu Langgam Pulang Kampung ciptaan Acep Djamaludin yang menggugah.
Seperti halnya Tuti, karier keroncong telah membawa Sundari tampil di berbagai kota dan negara. Ia masih ingat bahwa seiring dengan perayaan Tahun Emas RI, ia menyanyikan lagu- lagu keroncong di tujuh negara Eropa bersama rombongan kesenian Indonesia.
Yang tak kalah mengesankan, setelah menyelesaikan sarjana S1 di Universitas Negeri Jakarta dengan topik skripsi “Keroncong di DKI”, Sundari menjelang akhir tahun lalu juga berhasil menyelesaikan S2 di Universitas Gadjah Mada sehingga ia berhak menyandang gelar magister manajemen. Kini, di sela-sela kesibukan keroncong dan merintis bisnis dengan kakak dan adiknya, Sundari juga menjajaki kemungkinan melanjutkan studi ke jenjang S3.
MELIHAT sekilas aktivitas dua penyanyi keroncong ternama ini, sebenarnya harapan masih besar bahwa musik keroncong yang sering dikhawatirkan akan tergusur oleh musik pop masih akan terus hidup.
Dalam sarasehan “Ada Apa dengan Keroncong” yang digelar oleh Paguyuban Kesenian Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Desember 2004, memang masih muncul kekhawatiran di atas, khususnya setelah mengamati bahwa musik yang pernah berjaya pada tahun 1950-an sampai tahun 1970-an ini tampak terpinggirkan oleh arus musik industri yang demikian kuat.
Meski mengakui bahwa penggemar keroncong tidak sebanyak musik pop, baik Sundari maupun Tuti meyakini bahwa segmen keroncong akan tetap eksis. Di antara penggemarnya bahkan ada yang demikian cinta berat. Bahkan untuk jenisnya, musik keroncong akan selalu hadir pada acara-acara di Istana.
Pemikiran untuk menyegarkan musik keroncong, sebagaimana disampaikan oleh Frans Sartono, wartawan yang menjadi moderator sarasehan malam itu, telah banyak dilakukan, seperti Erwin Gutawa yang menggarap keroncong dengan orkestra, dan dengan mengajak Yuni Shara. Tetapi hasilnya dirasa belum nyata.
“Bagaimana ya, kalau iramanya tetap lambat… tak kencrung… tak kencrung, ya susah,” kata Mus Mulyadi yang malam itu juga tampil sebagai pembicara seperti dikutip Ign Mugi Widodo dalam buletin InfoKita edisi awal tahun 2005.
Usulan penyegaran disampaikan, tetapi jalan memang panjang untuk dilalui. Sementara sosok utama musik keroncong, seperti Sundari Soekotjo dan Tuti Tri Sedya, tampak nyaman-nyaman saja dengan apa pun yang ada pada musik yang mereka geluti.
Hendarmin Susilo sebagai produser rekaman kaset dan CD musik keroncong juga nyaman- nyaman saja melanjutkan bisnisnya, meski seminggu setelah rekaman baru muncul, pembajak sudah mengedarkan versi bajakan.
Keroncong, dunia yang sepertinya tak menuntut harus disikapi serius sekali… gitu loh. Tak kencrung… tak kencrung akan selalu nikmat. (Ninok Leksono)
Kompas Jumat, 17 Juni 2005
Filed under: Pop Indo